Kopi
Ditemani secangkir
macchiato latte, dan rintikan air hujan diluar sana yang bergelayutan membasahi
dinding kaca tempat aku bersandar dan duduk sendiri. Kedai Kopi inilah tempat
dimana aku berusaha melepaskan kepenatan dan kejenuhan dari segala aktivitas yang
berjalan setiap harinya, seperti roda yang terus berputar dan tak kunjung
berhenti. Kebetulan hari itu cuaca memang tidak bersahabat, hujan yang tak
dapat diprediksi kapan akan datang dan kapan dia akan berhenti. Alhasil Kedai
sepi dikunjungi para pecinta kopi, tepat disini lah aku mengagumi sesosok
perempuan itu, dengan rambut hitamnya
yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Yap, dia sendiri, hanya
ditemani seperangkat alat elktronik yang cukup untuk membunuh kepenatan, serta
cappucino hangat yang masih mengepul.
Hari berikutnya, aku
menantikan kembali sosok yang sudah terlanjur terpatri dimemori kepalaku. Dia,
perempuan itu, perempuan berambut indah, dan perparas rupawan itu. Aku bekerja
sebagai fashion stylist disebuah majalah yang cukup ternama, walau bukan dari
lulusan sekolah fashion, setidaknya aku mengerti walaupun aku mempelajarinya
secara otodidak bukan dari bangku sekolah formal. Yah, sore menjelang malam itu
aku kembali ke kedai kopi langgananku ini, lelah dan aku membutuhkan booster
yang tepat untuk melembur pekerjaan kantor yang sudah diburu oleh deadline,
suasana kedai yang hangat ditambah dengan temaram lampu dan juga alunan musik
jazz yang terasa syahdu ditelinga menambah kenyamanan dalam bersantai sambil
melepas lelah sejenak. Frans, barista yang sangat aku kenal disini,
"Frans, lo tau nggak kemaren waktu gue disini sore itu ada cewek kesini,
lo merhatiin kagak ? Apa malah lo kenal ? siapa siapa ?" sederet
pertanyaan aku lemparkan kepada sang Barista. "waduh kagak tau ane bos, cuman
udah dua atau tiga kali tuh cewek kesini" ujar Frans sembari mengelap
cangkir kopi yang telah dicuci. Dengan perasaan excited dan menunggu dengan
penasaran jawaban yang nanti akan dilontarkan oleh Frans, aku bertanya lagi
"eh doi kesini sendirian aja ?." "hmmm, kayaknya lho ini bos,
doi sendirian muluk sih kalo kesini, ada sih yang nemenin doi" jawab si
Frans sedikit ragu, "hahhha gimana sih lo, katanya sendiri, masak
ujung-ujungnya ada yang nemenin,berarti doi nggak sendiri dong kesininya?"
jawabku bingung.
Hari berganti dan
tak sadar sudah menjelang pergantian tahun. Masih terbesit rasa sakit itu, dan
juga masih berbekas dipikiranku, seolah tak mau hilang. Rasa sakit itu, iya
rasa sakit yang mendalam, kehilangan, bagaimana rasa kehilang seseorang yang
sangat berarti dalam hidupmu. Bagaimana kamu ditinggalkan tanpa adanya alasan
yang jelas dan pasti. Kamu sudah
menunggu dan berharap akan sesuatu yang memang tak pasti, tapi kamu
punya keyakinan itu, suatu saat nanti kamu pasti akan mendapat jawabnya.
Comments
Post a Comment